SLR

Kita tidak boleh sembarangan dalam menentukan lensa SLR, karena ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih lensa SLR Digital.

  1. Ukuran Lensa

SLR

Hal paling penting diperhatikan dalam memilih lensa, tentu saja kompabilitas merk-nya. Karena setiap merk DSLR mempunyai ukuran lensa khusus yang hanya sesuai dengan merk kameranya masing-masing. Jadi, misalnya, lensa Canon hanya cocok untuk kamera digital SLR produksi Canon, begitupun lensa Nikon hanya pas untuk kamera produksi Nikon. Akan tetapi, beberapa produsen pihak ketiga seumpama Tamron dan Sigma, memproduksi berbagai lensa yang sesuai dengan empat merk kamera papan atas, termasuk Nikon dan Canon.

  1. Focal Length

SLR

Focal length merupakan jarak antara sensor kamera dengan lensa ketika subjek foto berada dalam titik fokus yang tajam pada jarak sejauh mungkin dari kamera. Jarak inilah yang menentukan pembesaran lensa dan sudut pengambilan gambar. Dengan focal length yang pendek, misalnya pada lensa wide-angle, harus dekat dengan subyek  agar sesuai dengan frame. Focal lengths yang lebih panjang, biasanya digunakan pada lensa telephoto, memungkinkan pengambilan gambar close-up meskipun dari jarak jauh. Misalnya, lensa Canon 18-55mm memiliki jangkauan zoom optical antara 18-55mm. Angka pertama menunjukkan angle of view, semakin kecil angkanya, semakin besar pula zoomnya. Angka kedua menunjukkan kemampuan zoomnya, semakin besar angkanya, semakin jauh zoomnya. Jarak focal length tercetak pada laras lensa, namun kebanyakan menggunakan focal length tidak lebih dari jarak tersebut. Misalnya pada lensa focal length Canon 18-55mm, terdapat indicator antara 18,24,35, dan 50mm pada laras.

  1. Ukuran Sensor

Jika  anda memiliki DSLR papan atas dengan sensor full-frame, focal length bawaan pada lensa manapun bukanlah focal length yang sesungguhnya sebagaimana yang digunakan pada kamera SLR digital. Kebanyakan SLR digital menggunakan sensor gambar yang lebih kecil, yang hanya mampu menangkap area yang lebih kecil jika dibandingkan dengan DSLR full-frame.

Baca juga : Pemilihan Lensa Untuk Landscape

Produsen menggunakan istilah `crop factor` atau Focal Length Multiplier (FLM) pada sensor kameranya untuk menggambarkan bagaimana ukuran sensor mempengaruhi focal length lensa. Kebanyakan SLR digital dengan sensor APS-C memiliki crop factor 1.5x, 1.6x, bahkan 2x. Agar focal length lensa yang sesungguhnya dapat berfungsi dengan baik, maka focal length bawaan, harus digandakan menggunakan crop factor. Jadi, sebagai contoh jika menggunakan lensa 55mm pada DSLR full-frame, maka focal length yang didapat adalah 55mm.

Meskipun menggunakan lensa 55mm pada Canon EOS 7D yang memiliki crop factor 1.6x, maka focal length lensa digandakan 1.6 maka focal lengthnya menjadi 88mm.

Keterbatasan pandangan, memiliki kekurangan tersendiri, mentransformasikan lensa ultra- wide menjadi wide dan lensa wide-angle focal length standard. Tetapi, crop factor hanya digunakan oleh fotografer yang membutuhkan lensa telephoto.  Lensa 300mm pada DSLR dengan 1.6 crop factor, dapat menghasilkan perbesaran gambar yang sama dengan DSLR yang menggunakan lensa telephoto 480mm.

  1. Aperture size (f-stop)

Layaknya perubahan ukuran pupil mata yang berdasarkan pada berapa banyaknya cahaya yang mesuk pada mata, aperture adalah sebuah lubang yang bisa disesuaikan yang terdapat pada lensa kamera yang bisa diperbesar atau diperkecil untuk mengatur seberapa banyak cahaya yang mengenai sensor. Pada mode otomatis, aperture camera diatur secara otomatis sesuai dengan jumlah cahaya yang memasuki lensa. Jika kamera yang digunakan adalah mode manual, maka aperture dapat diatur sesuai keinginan.

Baca juga: Apa itu Aperture dan Depth of Field

Perubahan ukuran aperture dapat memberikan perbedaan jumlah `depth of field (DOF)`. Depth of field (DOF) adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto.  Semakin besar aperture, semakin kecil bidang fokusnya dan akan mendapatkan gambar latar depan yang tajam dan latar belakang yang diblur. Aperture yang kecil memberikan titik focus yang lebih baik yang berarti area titik focus gambar akan lebih luas.

Depth of field yang sempit biasanya digunakan  ketika memotret objeck yang kecil seprti bunga atau serangga dimana latar belakang yang diblur membantu memfokuskan subyek. Juga merupakan teknik yang sangat bermanfaat untuk pengambilan gambar pada posisi portrait.  Depth of field khususnya digunakan ketika memotret pemandangan dimana elemen kedua latar depan dan latar belakang keduanya harus focus.

Ukuran aperture juga disebut f-stop, dan ukurannya ditunjukkan dengan huruf f dan angka, misalnya f2.8 dan f22.

Baca juga: Karakteristik Cinematic Lens yang Spesial

Semakin kecil f-stopnya, semakin besar aperturenya dan semakin sedikit depth of field yang didapat, f1.8 dan f1.4 merupakan contoh dari f-stop kecil, meskipun anda hanya akan menjumpai aperture yang besar pada lensa focal-length fix tanpa zoom.

Ukuran aperture dapat diubah menggunakan control kamera SLR digital, meskipun setiap lensa memiliki ukuran aperture maksimum dan minimum, dimana kamera mendeteksi secara otomatis. Aperture maksimum biasanya sudah terdapat pada lensa.

  1. Image stabilisation

SLR

Banyak lensa SLR digital memiliki stabiliser gambar bawaan untuk mengurangi getaran gerakan tangan saat digunakan. Stabiliser ini biasanya disimbolkan dangan IS (Image Stabiliser), VR (Vibra Reduction) atau OS (Optical Stabilisation), dan relatif lebih mahal daripada lensa tanpa stabiliser. Beberapa kamera SLR digital memiliki sensor stabiliser gambar yang terdapat didalam kamera itu sendiri, yang befungsi mengatur sensor ketika gerakan terdeteksi. Ini berarti tidak perlu lagi membeli lensa dengan stabiliser.

Image stabilization sangat esensial ketika memotret pada kondisi low light, dan membutuhkan shutter speed untuk menangkap subyek. Juga sangat berguna ketika menggunakan zoom lensa telephoto, seperti gerakan tangan yang kecil dapat diperbesar dengan zoom lensa.