Kalau sobat suka travelling, sobat pasti suka sekali mengabadikan perjalanan sobat. Selain memotret teman travelling, kendaraan travelling kamu, dan apapun; mengambil foto saat Travelling : mengabadikan budaya dan orang-orang sekitar. Selain memotret keindahan alam tempat yang kamu kunjungi, travelling bisa jadi saatnya untuk mengolah keterampilan memotret dengan gaya potrait fotografi!

Beberapa dari kalian mungkin ada yang sangat senang karena bertemu orang baru sangatlah menyenangkan. Namun, ada beberapa dari kalian yang sedikit sulit untuk bertemu orang baru. Atau mungkin, kamu juga sangat malas untuk bilang permisi padahal kamu ingin sekali memotret suatu ritual budaya. Jangan takut! Inilah beberapa tips untuk mengambil foto saat travelling!

Mendekati Orang

Finn, sang fotografer, harus berkenalan dengan subjeknya dahulu. Lalu, ia mengetahui bahwa subjeknya adalah Sonam Phuntsho, seseorang yang tinggal di hutan – sebuah cara Bhutan untuk tetap mengimbangi hidup dan kembali pada alam. Sumber : Finn Harries

Mendekati orang memang menakutkan untuk beberapa dari kalian, namun, tipsnya gampang : senyum. Jangan langsung memamerkan kamera di depan orang tersebut dan langsung tourist mode ke mereka. Tetaplah mengajak mereka untuk bercakap-cakap tentang sekitar. In order to ease into it, berpikirlah menjadi seseorang yang dimintai foto daripada menjadi fotografer. Treat the person that you want to take a picture like how you want the photographer to treat you. Dengan mengetahui siapa sang subjekmu, kamu akan membuat subjekmu merasa nyaman untuk difoto dan hasilnya, kamu akan mendapatkan hasil foto yang sangat hidup.

Ingat, tidak semua orang akan mau kamu ambil fotonya. Jika ini terjadi, it’s okay to find another person, jangan memaksa. Ini adalah salah satu halangan para fotografer travel kok, termasuk fotografer sekaliber David Lazar juga pernah mengalaminya, kok.

Kepekaan Budaya

para biksu berkumpul di bukit Punakha, Bhutan. Sumber : Jack Harries

Pastikan kamu tahu seluk-beluk budaya sebelum kamu mengunjungi tujuan kamu. Dengan begini, kamu akan memiliki gambaran bagaimana tujuan kamu. Nah, sebagai fotografer di tempat baru, kamu tidak bisa langsung asal cekrek. Kamu harus tahu tempat mana yang harus meminta ijin untuk difoto. Begitu juga dengan orang. Ada beberapa orang yang sangat sangat fotojenik, namun ia sebenarnya merasa sangat tidak nyaman karena orang-orang akan mengawasinya.

Agar main aman, daripada kamu terlihat sangat-sangat “turis” dan asal cekrek sana sini, potretlah secara diam-diam. Kamu nggak akan pernah tahu tiba-tiba ada anak-anak bermain sepeda yang lewat, orang berlari, ataupun orang berjalan yang akan menambah “cerita” dalam foto kamu.

Komposisi

Tsechu di Paro, Bhutan. Sumber : Finn Harries

Memang komposisi sangatlah penting. Seperti yang saya sebutkan tadi, foto dengan anak-anak bermain sepeda yang lewat, orang berlari, ataupun orang berjalan yang akan menambah “cerita” dalam foto kamu. Namun, ada budaya yang dengan menunjukkan tidak ada wajah penduduk asli, kamu telah menghormati mereka.

Kalau itu memang terjadi, kamu bisa lebih menggali kreatifitasmu dengan bermain dengan garis, rule of third, cahaya, dan sebagainya.

Exposure

Jack, memotret sang penduduk Bhutan yang menemaninya travel, Nema. Jack memanfaatkan cahaya hutan dan ISO tinggi untuk membuat wajah Nema terlihat lebih tajam. Sumber : Jack Harries

Ketika kamu memotret fotografi potrait, naikkan exposure ke +0.7 ataupun +1 guna untuk membuat wajah subjek kamu terlihat lebih “pop”. Dengan memotret bereksposur tinggi, ini akan memberikan efek flash yang natural dan akan menonjolkan fitur-fitur wajah dan memberikan efek blur yang halus pada kulit namun hasil foto tetap terlihat tajam.

The Kingdom Of Bhutan. Sumber : Jack Harries

Dan yang terakhir adalah, menggunakan keindahan tempat yang kamu kunjungi. Dari bangunan, taman, pohon, dan sebagainya. Buka mata kamu lebar-lebar untuk menemukan angle yang tepat untuk foto yang unik. Selamat mencoba!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.