@tabemust_o

Saat datang ke sebuah restoran tentu kita sering melihat foto-foto makanan yang mejeng di dinding atau buku menu. Foto makanan yang terlihat cantik dan jugaa menggugah selera menjadi jurus pertama restoran untuk menggaet pengunjungnya. Jurus-jurus untuk menciptakan foto makanan komersial yang kece banget bakalan dibagiin disini.

Menguak Tiap Jepretan Foto Makanan Komersial

Di jaman sekarang banyak sekali pemuda dan pemudi yang membeli makanan bukan hanya ingin mengisi perut, namun juga karena kepincut foto menunya yang indah. Tidak terasa, tenggorokan meneguk air liur karena kepo dengan rasa makanannya hanya karena melihat fotonya, bukan?

Disini ada Edward Wahab, seorang fotografer makanan komersial yang biasa memotret di Domicile. Berbekal mirrorless Sony-nya, Edward memotret restoran mewah tersebut mulai dari foto menu, konten social media, baliho, bahkan campaign terbarunya.

“Foto makanan komersial itu harus menunjukkan makanan sejujur-jujurnya, mulai dari teksturnya, stylingnya, bahkan tingkat kedetailan tiap bagiannya,” jelas Edward saat bepresentasi di depan.

Tentu untuk menghasilkan potret makanan yang bikin ngiler diperlukan alat pendukung yang tepat pula, plus lighting yang memadahi. Edward bercerita tentang pengalaman yang sering menggunakan satu lampu artifisial dalam setiap pemotretannya. Tidak lupa softbox bertengger di depan lighting agar cahaya yang dipancarkan lebih merata. Ketimbang menggunakan available light, Edward mengaku lebih leluasa dalam menggunakan artificial lighting.

Lantas, apa penggunaan satu lighting saja sudah cukup? Tentu cukup untuk beberapa angle, ditambah lagi dengan reflector yang diarahkan di sisi bayangan objek. Nah, dengan begini objek foto makanan kalian akan terlihat kontras dan tajam.

Articial lighting yang digunakan Edward juga terdiri dari dua macam, yaitu strobe dan continuous. Kedua lighting tersebut berperan besar dalam setiap jepretan Edward. Penggunaan lighting dipilih sesuai dengan kebutuhan hasil akhir, dimana strobe lighting menghasilkan hasil foto dengan kontras dan highlight yang tebal, sebaliknya continuous lighting cenderung lebih soft.

Dalam setiap pemotretannya, Edward juga menggunakan angle yang bervariasi. “Yang penting sesuai dengan briefing,” sahut Edward sambil tertawa. Misalnya untuk pemotretan makanan pizza, top angle menjadi pilihannya. Sedangkan, untuk cake dan ice cream akan lebih menggoda saat difoto dengan eye level angle.

Nah, ternyata memotret sebuah makanan itu tidak sekedar jepret-jepret saja ya. Ada berbagai perlengkapan pendukung yang harus ditata benar-benar, mulai dari reflector, lighting, backdrop, dan lain-lain. Dengan pengaturan yang tepat, tentu hasil foto makanan yang bisa menggelitik indra perasa bisa dihasilkan.