Beberapa hari yang lalu, saya dikontak salah satu sobat Infotografi dan menanyakan tips-tips untuk analog. Memang benar sih, karena kamera digital tengah membeludak seiring dengan kamera-kamera mirrorless yang canggih, banyak orang yang ingin merasakan bagaimana deg-degannya menunggu cuci film dan benar-benar memperhatikan aturan-aturan dari fotografi agar bisa menghasilkan gambar yang pas saat dicetak. Kalau kamu ingin memotret dengan kamera analog, kamu berada di tempat yang pas, kok. Inilah cara memilih kamera analog pertama sobat.

 

Pertama-tama, sobat harus tahu fotografi apa yang akan sobat lakukan. Ini penting karena sobat yang paling mengerti tipe fotografi apa yang sering sobat lakukan dan sobat paling ngerti jenis-jenis maupun lensa apa yang paling pas untuk sobat. Saat kamera analog booming, kamera telah diatur sedemikian rupa untuk macam-macam kebutuhan.

 

Baca juga : Kamera untuk Para Street Photographer : Fujifilm GFX 50R dengan Sensor Format Medium! 

 

Kalau sobat memotret macam-macam, sobat bisa gunakan SLR 35 mm atau kamera point-and-shoot.  Kalau sobat suka memotret potret, sobat bisa menggunakan kamera format medium ataupun format large. Kalau untuk olahraga, sobat bisa menggunakan 35mm tapi harga kameranya bisa tiba-tiba mahal, tuh. Street photography, 35 mm dengan format medium. Pesta, bisa pakai 35mm. Untuk pernikahan, mending jangan deh, daripada gagal hehehe.

 

Oke, pasti sekarang sobat bertanya-tanya, mana yang cocok : 35mm, format medium ataupun format large untuk para pemula? Menggunakan kamera dalam format spesifik itu memiliki keuntungan dan kerugian. Beberapa orang menggunakan kamera film 35mm karena filmnya mudah untuk didapatkan dan dapat diproses. Kalau sobat benar-benar pemula, sebaiknya sobat menggunakan kamera format film 35mm. Baru kalau merasa sudah “pro”, sobat bisa upgrade ke format 6×7 (medium 120) dan seterusnya.

 

Baca juga :  Kamera Compact Ricoh GRIII akan Diluncurkan Tahun Depan

 

Untuk pemula, ketika kalian menghadapi negative/positive yang besar, pikirkan lagi untuk memotret pada f4 dengan kamera yang menggunakan film 120 tidak akan memberikan depth-of-field yang dangkal, maka pikirkan lagi. Sekitar depth of field f2.8 atau yang lebih dangkal lagi ketika menggunakan film 120 tergantung format yang sobat cari.

Untuk film 35mm bisa digunakan untuk memotret full 35mm atau setengah frame. Setengah frame mengambil setiap gambar dan dibagi menjadi setengah, membuat eksposur 36 film hingga 72 foto.

 

Baca juga : Menyiasati Kamera Instax

 

Terdapat macam-macam format untuk film 120. Sobat bisa menggunakan bermacam-macam roll, tapi bisa juga digunakan untuk memotret pada 645, 6×6, 6×7, 6×9 atau lebih. Jika sobat memotret lebih besar, negative sobat lebih besar, tuh.

 

Yang perlu sobat ketahui, terdapat macam-macam format untuk film 120. Sobat bisa menggunakan rol yang sama, namun bisa digunakan memotret 645. Ingat, semakin besar format yang sobat pakai, semakin sulit sobat menggunakannya. Sobat bisa menggunakan eksposur single di satu waktu dan ketika sobat selesai memotret, sobat bisa mengisi film lagi. Proses kayak gini capek banget loh.

 

Kalau sobat pusing masalah cuci cetak film, ada film Instan juga, nih. Film-film ini memiliki banyak format seperti Instax, Instax Wide, 3×4 Fujifilm, dan lainnya.

 

Untuk sistem dari kamera 35mm juga macam-macam. Mau flash dengan transmisi TTL? Ada. Lensa tambahan? Ada! Beberapa perusahaan terus untuk membuat lensa untuk sistem mereka. Lensa-lensa modern untuk Nikon tidak pas untuk kamera-kamera lama, namun beberapa dari mereka masih ada yang masih bisa cocok. Lensa-lensa FD dan EOS Canon tidak terlalu cocok satu sama lain, namun tiap-tiap lensa didesian untuk system EOS atau pas untuk kamera digital EOS ataupun film.

 

Jika sobat ingin memotret dengan kamera Pentax, sobat bisa menggunakan full frame dengan lensa 35mm. Lensa-lensa film yang lama telah diadaptasi untuk beberapa sistem kamera mirrorless dengan pengaturan yang tepat.

 

Ini yang harus sobat ketahui, nih. Kamera SLR untuk format medium terdiri dari empat bagian utama, yakni :

– Viewfinder: Top down, metered prism, non-metered prism, etc.

– Body

– Lensa

– Belakang : 120 film or Polaroid, ataupun 120 menggunakan 3×4 instant film.

– Grip: Double stroke? Hand crank?

 

Lalu, apakah menggunakan kamera SLR, Rangefinder ataukah point and shoot? Kamera Point and shoot biasanya pas jika sobat suka memotret semuanya karena sobat akan terbiasa dengan panjang fokal tertentu. Kalau menggunakan SLR sama saja dengan kamera digital SLR. Benci sama fokus auto Canon SLR? Ada eye-focus kan?

 

Sedangkan rangefinders, rangefinder tidak memberikan kamu “through-the-lens-experience” yang bisa kamu dapatkan di kamera-kamera SLR. Tapi, kamera rangefinders ini akan memberikan perkiraan dan sobat masih bisa melihat ketika objek sobat bergerak di dalam ataupun di luar frame.

 

Oke, sekarang toko kamera apa yang pas untuk beli kamera analog? Saya merekomendasikan Toko Tua Mentereng, namun sobat harus cepat booking kalau sobat sudah naksir satu kamera karena cepetnya habis banget!

 

Oh ya, kamera-kamera apa saja yang pas untuk para newbie? Ini nih :

Cara Memilih Kamera Analog Pertama
Leica CL
  • Leica CL
Cara Memilih Kamera Analog Pertama
Voigtlander Bessa R
  • Voigtlander Bessa R
Cara Memilih Kamera Analog Pertama
Yashica Electro 35 GL
  • Yashica Electro 35 GL
  • Pentax K1000
  • Nikon FM10
  • Lomography LC-A 120
  • Fujifilm Instax Mini 90
  • Polaroid Land Camera 185

 

Sudah nggak galau lagi kan? Ayo, cus coba! Kalau kamu sudah berhasil dalam memotret dengan kamera analog, kirim ke kami, ya! Ditunggu!