Rahasia Mendapatkan Foto Tajam – BAG 2

Kuasai Depth of  Field

Aperture, focal length serta lensa yang Sobat gunakan, semuanya memberikan dampak apa yang menjadi fokus foto kalian.
foto tajamPhoto: Scott

1. Aperture dan Depth of Field

Sepertinya sudah seringkali InFotografi bahas tentang konsep sederhana dari Aperture dan Depth of Field ini. Semakin kecil aperture (semakin besar bilangan contoh: f/22), maka Depth of Field yang dihasilkan akan semakin luas. Contoh: Jika memotret landscape dan ingin mendapatkan Depth of Field yang maksimal sehingga mendapatkan bidang tajam yang merata di seluruh frame foto, maka hendaknya Sobat menggunakan aperture kecil/sempit antar f/16 dan f/22. Pengaturan aperture kecil ini berarti hanya sedikit  cahaya yang mengenai sensor kamera, sehingga  untuk mengkompensasinya Sobat membutuhkan Slow Shutter Speed guna mendapatkan exposure yang pas. Jadi sobat akan membutuhkan sebuah tripod untuk menopang kamera kalian.

Namun sebaliknya, jika Sobat menginginkan foto yang memiliki background yang tidak terfokus sedangkan subyek terlihat tajam (contoh: foto portrait), maka gunakan aperture lebar (bilangan kecil) seperti f/2.8 atau f/4. Sama seperti pada foto portrait, pemilihan aperture lebar juga ideal pada wildlife photography, atau foto-foto yang menonjolkan subyek foto dibandingkan background. Semakin besar aperture berarti akan semakin banyak cahaya yang masuk dan mengenai sensor kamera, jadi mau tidak mau Sobat harus berurusan dengan pemilihan shutter speed untuk mendapatkan expsoure yang Sobat inginkan.

2. Depth of Field dan Focal Length

Depth of Field juga tergantung pada Focal Length. Jika Sobat memotret menggunakan lensa wide maka Sobat akan mendapati Depth of Field yang lebih luas, yang berarti keseluruhan scene akan tampak tajam. Contoh: pada lensa wide angle 10mm f/5.6 Sobat akan mendapatkan depth of field yang lebih luas dibandingkan f/5.6 pada lensa tele 100mm. Inilah alasan kenapa lensa-lensa wide angle sangat cocok digunakan pada foto-foto landscape.

3. Lensa Zoom vs Prime

Kualitas dari lensa yang Sobat miliki juga memberikan dampak yang besar pada ketajaman foto. Lensa Prime / Fix memiliki optik yang bagus beberapa diantarannya memiliki harga yang relatif mahal dan juga keterbatasan fleksibilitas. Lensa zoom umumnya menawarkan keleluasaan yang lebih dengan harga yang lebih murah, tetapi kurang dalam ketajaman foto. Menghindari focal length yang terlalu ekstrim pada lensa zoom bisa menjadi acuan untuk mendapatkan foto yang bebas shake, karena performa optik cenderung berkurang pada focal length lebar dan panjang. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya aperture maksimal pada focal length yang berbeda. Contohnya pada lensa tele 70-300mm f/4-5.6: aperture maksimal pada FL 70mm adalah f/4, dan f/5.6 pada 300mm. Nilai aperture yang berkurang berarti semakin lambat pula shutter speed yang bisa digunakan untuk mendapatkan exposure yang pas, dan ini akan berpotensi menghasilkan camera shake.

Beda dengan lensa prime, Lensa ini memiliki aperture maksimal yang lebar, dan disebut juga lensa “cepat” (mampu menggunakan shutter speed cepat pada kondisi rendah cahaya). Lensa ini juga memiliki desain optik yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan lensa zoom, hal ini menjadikan lensa prime lebih ringan dan memiliki akurasi optik yang lebih.

4. Depth of Field dan Penempatan Titik Fokus

Semakin dekat kamera dengan subyek maka akan semakin mengurangi Depth of Field, jadi akurasi fokus merupakan hal yang penting guna memastikan subyek kalian tetap tajam. Inilah yang menjadi alasan kenapa Sobat perlu menggunkan aperture kecil/sempit pada fotografi makro.

5. Temukan “Sweet Spot” Lensa

Yang dimaksud dengan “Sweet Spot” lensa adalah Aperture yang menghasilkan ketajaman foto maksimal. Sebuah lensa tidak menghasilkan tingkat ketajaman yang sama di setiap aperture, jadi dengan menemukan “Sweet Spot” ini Sobat bisa memastikan untuk mengambil foto setajam mungkin. “Sweet Spot” lensa ini biasanya terletak pada pertengahan range pengaturan aperture: dari f/8 ke f/11. Ketajaman cenderung menurun di pengaturan aperture maksimal atau minimal. Jadi pemilihan setting aperture tidak hanya berpengaruh pada Depth of Field tetapi juga pada ketajaman foto. Penggunaan “Sweet Spot” sangat disarankan pada pengambilan foto landscape.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here